Wajah Kota

Sudut dan sisi kota punya cerita, wajah kota terekam kamera

Menerbangkan Harapan Di Langit Magelang

    Ritual keagamaan di Indonesia erat kaitannya dengan upaya melestarikan nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia, agar tidak mudah tergerus zaman dan dilupakan begitu saja.

    Para pemuka agama selalu mengupayakan banyak cara, bagaimana agar umat beragama bisa mengikuti ritual dengan baik. Membuat acara keagamaan yang lebih menarik, menyisipkan nilai-nilai moral yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jika hal itu berhasil tercapai, bukan hanya semata diikuti oleh penganut agama yang bersangkutan, namun bisa jadi daya tarik tersindiri bagi masyarakat luas.

    Sebagai contoh perayaan Waisak yang pusatnya diadakan di candi Borobudur, kota Magelang. Dalam beberapa tahun belakangan ini, hari raya waisak di Borobudur menjadi pusat perhatian. Menjadi berita, lalu tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Candi Borobudur
Photo: Potensijawatengah.wordpress.com
    Ketika foto-foto ratusan lampion beterbangan di langit malam, setiap orang ingin menyaksikan langsung bagaimana acara tersebut berjalan. Karena itulah waktu-waktu menjelang hari Waisak, wisatawan lokal dan asing berbondong-bondong mendatangi kota Magelang.

    Penginapan di kota Magelang mendadak dipenuhi tamu, kota yang biasanya lengang jadi tiba-tiba ramai. Jika ingin tetap leluasa memilih penginapan, Anda harus memesan jauh-jauh hari, karena jika mendadak Anda hanya akan mendapat hotel yang biasa tapi dengan harga tinggi.

    Ada banyak hotel yang bisa dipesan jauh-jauh hari, salah satunya Puri Asri Hotel Magelang. Letaknya sangat dekat dengan candi Borobudur, hanya sekitar 20 menit perjalanan. Alamatnya berada di jalan Cempaka No 9, Magelang. Anda bisa mengunakan aplikasi Traveloka untuk memesan hotel ini dan dapatkan penawaran menarik seperti diskon atau cash back.

    Jarak dari bandara terdekat, yaitu bandara Adi Sucipto, Jogjakarta hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk tiba di lokasi.

    Bagi Anda yang akan mengikuti ritual waisak yang dimulai sejak pagi hari, Anda bisa melihat langsung dan disela-sela waktu, bisa kembali ke penginapan untuk menyiapkan acara puncak di malam hari. Disela waktu tersebut, Anda bisa menikmati fasilitas hotel bintang lima atau menikmati pemandangan alam di sekitar hotel, terdapat pegunungan, sungai dan hamparan pesawahan luas.

Hamparan Persawahan
Photo: Puriasrihotel.com
Kamar Hotel Puri Asri
Photo: Puriasrihotel.com
    Bagi seseorang dengan hobi photografi, perayaan Waisak tetap menarik sepanjang acara berlangsung. Kebudayaan Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun, bersama dengan umat budha dan biksu-biksu yang khidmat menjalankan acara adalah pemandangan eksotik yang langka terjadi.

    Jadi pastikan, memiliki hobi photografi atau pun tidak. Membawa kamera canggih atau kamera ponsel sederhana, atau bahkan hanya kamera saku analog, bahwa Anda harus menyiapkan kamera untuk menangkap momen ketika mimpi dan harapan ribuan orang mengangkasa.

Lampion Mengangkasa
Photo: Citizen6.liputan6.com
    Tahun 2016 ini perayaan hari Waisak dilaksanakan pada tanggal 21 Mei. Prosesi ritual sudah dimulai sejak pagi hari, dengan tanda pemukulan gong sebanyak tiga kali oleh Biksu Wongsin Labiksu Mahatera yang berperan menjadi pemimpin meditasi ritual paradiksa, pun dimulai.

    Paradiksa adalah perjalanan mengelilingi candi sebanyak tiga kali, masing-masing orang membawa bunga teratai. Hal itu dilakukan sebagai penghormatan untuk Budha dan Bodhisattva.

    Pembukaan loket candi Borobudur dimulai sejak pukul 10.00 WIB. Panitia perayaan memberi kesempatan para pengunjung jika ingin turut bergabung pada acara puncak. Panitia menyediakan lampion yang bisa diterbangkan oleh pengunjung dengan mengganti biaya sekitar Rp 100.000.

    Setelah semua ritual yang sangat sakral dilaksanakan, bunyi gong terdengar lagi sebagai tanda acara puncak akan dilangsungkan. Acara dilaksanakan di taman Lumbini yang masih menyatu dengan komplek Candi Borobudur.

    Tahun ini lampion pertama di lepaskan oleh wakil presiden Yusuf Kalla secara simbolis. Kemudian pelepasan lampion dilakukan bersama-sama, baik umat Budha yang merayakan Waisak atau wisatawan yang hadir. Tahun ini sebanyak 5.000 lampion disiapkan panitia dan diterbangkan bersama-sama.

    Untuk menerbangkan satu buah lampion dibutuhkan 3 orang dewasa, karena ukuran lampion tersebut memang cukup besar.

    Panitia perayaan memberikan stiker kepada pengunjung yang akan ikut serta, untuk menuliskan harapan dan cita-cita mereka. Lantas ditempelkan di lampion yang siap untuk diterbangkan.

Harapan Bersama Lampion
Photo: rininthaanggie.blogspot.com
Sepanjang hari perayaan Waisak suasana sakral sangat kental terasa. Dan, ketika acara puncak berlangsung suasana Borobudur yang dipenuhi ratusan manusia diliputi keharuan.

    Tepat  pada pukul 22.00 WIB, langit Magelang mulai dipenuhi cahaya kemuning, lampion-lampion mengangkasa membawa semua cahaya harapan manusia menembus langit yang gelap.



4 komentar

Perasaan pernah komen disini... kenapa jadi kosong lagi komentarnya? Atau artikelnya ada di blog sebelah yaa...?

iya.. Sebelah bang jangkaru bumi

Maturnuhun, sampun kersa mampir !

 
Copyright © 2013- | Wajah Kota | Powered by Blogger
Back To Top